Aku sampai lupa seperti apa rasanya menjadi diri sendiri. Aku menutupi hidupku dalam topeng 'ketakutan' yang terlalu lama. Aku sudah menjadi orang lain yang bukan aku.
![]() |
| Foto oleh Zhivko Minkov di Unsplash |
Masa kecil seharusnya penuh dengan keceriaan dan kenangan indah. Namun, bagi saya, masa-masa di bangku Sekolah Dasar justru meninggalkan pengalaman mengerikan yang sampai hari ini masih membekas. Di kelas empat SD, saya pernah mengalami perundungan yang membuat saya berubah. Saya kehilangan senyuman, kehilangan rasa percaya diri, dan perlahan membangun tembok tinggi di antara saya dan dunia luar.
Semua berawal ketika saya mulai dijadikan sasaran oleh anak laki-laki di kelas. Awalnya mereka hanya mengejek atau menertawakan saya. Namun, lama-kelamaan, bullying itu berubah menjadi kekerasan fisik. Saya pernah dilempar batu saat jam istirahat, dipukul bola dengan sengaja, bahkan pernah dipojokkan menggunakan meja di dalam kelas. Saya merasa seperti tidak punya tempat aman, bahkan ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat belajar pun berubah menjadi arena ketakutan. Setiap hari, sekolah terasa seperti medan perang emosional, dan saya tidak punya keberanian untuk menceritakannya kepada guru ataupun orang tua. Guru dan orang dewasa di sekitar seolah tidak pernah benar-benar melihat atau memahami apa yang terjadi.
Dampak dari perlakuan itu terasa sangat berat bagi saya sebagai anak kecil. Sedikit demi sedikit, saya berubah menjadi anak yang pendiam, mudah merasa takut, dan semakin menarik diri dari lingkungan sekitar. Yang paling terasa, saya mulai takut terhadap laki-laki, meskipun itu dengan orang yang tidak bersalah. Secara logika, saya tahu tidak semua orang sama, luka di hati saya tetap mengajarkan untuk selalu berhati-hati. Rasa takut itu bukan hanya ketakutan biasa, tapi semacam kewaspadaan berlebih. Setiap gerakan, setiap suara keras, setiap tatapan tajam membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Bahkan ketika sudah beranjak dewasa, saya masih membawa ketidaknyamanan itu tanpa benar-benar bisa menjelaskannya kepada orang lain.
Butuh waktu yang lama untuk saya memahami jika semua ini bukan kesalahan saya. Saya belajar bahwa ketidakadilan yang saya alami adalah cermin dari ketidakpedulian orang-orang dewasa yang seharusnya melindungi. Luka itu memang membekas, tapi perlahan saya belajar melihatnya sebagai bagian dari perjalanan saya, bukan sebagai beban yang harus saya pikul selamanya.
Sampai bertahun-tahun, efek trauma itu masih terbayang. Dalam banyak kesempatan, saya merasa sulit percaya pada orang lain dan cenderung menjaga jarak. Namun, pengalaman ini juga perlahan mengajari saya untuk lebih peka dan sadar bahwa apa yang tampak sepele di mata satu orang bisa jadi beban berat bagi orang lain.
Pengalaman menunjukkan bahwa bullying bukan sekadar anak-anak sedang bercanda. Luka akibat bullying bisa menetap jauh lebih lama dan memengaruhi kesehatan mental tiap orang. Ini menjadi pengingat bagi siapa pun, terutama para pendidik dan orang tua, bahwa setiap anak berhak mendapatkan lingkungan yang aman dan penuh kasih. Bullying bukan hanya urusan antara anak-anak, ini masalah sosial yang perlu diatasi bersama. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa empati itu sangat penting. Sedikit kebaikan, perhatian, atau keberanian adalah hal kecil yang bisa menyelamatkan hidup seseorang.
Saya membawa harapan dalam hati saya bahwa suara-suara kecil yang pernah dibungkam seperti suara saya, suatu hari akan didengar. Bahwa anak-anak di masa depan bisa tumbuh tanpa rasa takut, tanpa harus berpura-pura kuat, dan tanpa harus memendam luka sendirian. Karena pada akhirnya, dunia yang lebih baik dimulai dari keberanian sederhana: berani melihat, berani mendengar, dan berani melindungi.

0 Komentar