Mitologi Yunani yang hidup di era modern
| Dwilogi Film Percy Jackson |
Awalnya saya menonton Percy
Jackson karena penasaran dengan dunia mitologi Yunani yang sering
dibicarakan banyak orang. Setelah menyelesaikan dua filmnya, menurutku ini
adalah film petualangan yang cukup menghibur, terutama karena hubungan
antarkarakternya terasa hangat.
Film pertamanya, Percy Jackson
& the Olympians: The Lightning Thief (2010) membuka dwilogi ini dengan
premis yang cukup menjanjikan, dunia mitologi Yunani hidup di era modern. Film
ini mengisahkan tentang Percy Jackson, seorang remaja biasa yang hidupnya
berubah total setelah mengetahui jati dirinya sebagai anak dari Poseidon, dewa
laut dalam mitologi Yunani. Ketika petir milik Zeus hilang dan Olympus
menuduhnya sebagai pencuri, Percy dipaksa meninggalkan kehidupan normalnya dan
memulai perjalanan untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Bersama
Annabeth dan Grover, Percy menyusuri berbagai penjuru Amerika Serikat untuk
menghadapi monster-monster mitologi, memecahkan teka-teki para dewa, dan
mencegah terjadinya perang besar di Gunung Olympus.
Hal yang paling kusukai adalah
persahabatan antara Percy, Annabeth, dan Grover. Ketiganya saling melengkapi
selama perjalanan. Mereka bukan sekadar teman yang kebetulan berada dalam satu camp,
tetapi benar-benar saling peduli dan berusaha melindungi satu sama lain. Dinamika
mereka membuat perjalanan melawan berbagai monster terasa lebih hidup dan
menyenangkan untuk diikuti.
Di film kedua, Sea of Mosnters
(2013) membawa Percy kembali ke Camp Half-Blood yang kini terancam hancur
karena pohon pelindungnya diracun. Satu-satunya harapan adalah Bulu Domba Emas
yang tersembunyi di Laut Monster, tempat paling berbahaya bagi para demigod.
Percy harus memimpin misi berbahaya ke segitiga bermuda bersama Annabeth, Tyson
adik tirinya, dan Clarisse.
Saya menyukai perkembangan
hubungan Percy dengan saudara tirinya, Tyson. Awalnya Percy sulit menerima
Tyson karena kaum Cyclops selama ini dikenal sebagai makhluk jahat. Namun,
Tyson justru menunjukkan ketulusan yang tidak disangka-sangka. Ia rela
mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Percy saat menghadapi Luke yang
berusaha membangkitkan Kronos menggunakan Golden Fleece atau Bulu Domba
Emas. Momen ketika Tyson jatuh ke laut sempat membuatku mengira ia telah mati.
Untungnya, karena ia juga merupakan putra Poseidon, laut justru
menyelamatkannya. Bagian itu menjadi salah satu adegan yang paling berkesan
bagiku, sekaligus menjadi titik ketika Percy akhirnya benar-benar menerima
Tyson sebagai saudaranya.
Meski begitu, ada satu hal yang
sejak awal cukup menggangguku, yaitu penggambaran para dewa Yunani. Saya paham
bahwa film ini memang diadaptasi dari mitologi Yunani yang sejak dulu
menceritakan para dewa memiliki hubungan dengan manusia hingga melahirkan
anak-anak setengah dewa. Namun, konsep itu tetap sulit kuterima secara pribadi.
Dalam pikiranku, sosok “Tuhan” identik dengan sesuatu yang suci dan berada jauh
di atas manusia. Karena itu, melihat para dewa digambarkan memiliki hubungan
romantis dengan manusia membuatku merasa aneh. Ini bukan berarti ceritanya
buruk, melainkan lebih karena perbedaan cara pandangku terhadap makna
ketuhanan.
Saya juga merasa akhir film kedua
sedikit kurang memuaskan. Setelah Golden Fleece menghidupkan kembali
pohon Thalia, ternyata Thalia sendiri juga hidup kembali dalam wujud remaja.
Bagian itu terasa cukup mendadak bagiku. Apalagi film berakhir begitu saja.
Rasanya seperti cerita berhenti tepat ketika konflik baru mulai muncul.
Secara keseluruhan, Percy
Jackson tetap menjadi tontonan fantasi yang menyenangkan. Petualangannya
seru, persahabatannya hangat, dan beberapa adegan emosional berhasil
menyentuhku. Walaupun saya masih sulit menerima konsep para dewa dalam mitologi
Yunani, hal itu tidak menghilangkan keseruanku mengikuti perjalanan Percy dan
teman-temannya. Kalau saja penutup film keduanya dibuat lebih memuaskan,
mungkin pengalamanku menonton akan terasa lebih lengkap.
0 Komentar