| The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2001) |
Sudah lama
saya penasaran dengan trilogi The Lord of the Rings. Rasanya hampir
semua orang yang suka film selalu menyebut trilogi ini sebagai salah satu yang
terbaik sepanjang masa. Jadi, ekspektasiku memang cukup tinggi. Setelah
akhirnya menyelesaikan ketiga filmnya, aku bisa paham kenapa film ini begitu
dicintai banyak orang. Tapi di saat yang sama, aku juga sadar kalau ternyata
seleraku memang sedikit berbeda.
Hal pertama
yang membuat saya kagum adalah visual yang ditampilkan dalam film itu. Jujur
saja, saya bukan orang yang paham soal CGI, sinematografi, atau color
grading. Patokanku sederhana saja. Kalau saat menonton saya percaya dengan
dunia yang dibangun dan ditampilkan, berarti visualnya berhasil. Dan The
Lord of The Rings berhasil melakukan itu.
Yang
membuat saya semakin takjub, film ini rilis di awal tahun 2000-an, bahkan
sebelum saya lahir. Tapi ketika ditonton sekarang, banyak adegan yang masih
terasa meyakinkan. Wilayahnya, pegunungannya, sampai peperangan dalam skala
besar masih kelihatan keren. Saya hampir tidak pernah merasa, “Oh, ini pasti
efek komputer.” Semuanya terasa menyatu dengan dunia Middle Earth.
Kalau
ditanya siapa karakter favoritku, jawabannya jelas Sam. Bahkan menurutku, dia
justru pahlawan sebenarnya di trilogi ini. Selama tiga film, dia tidak pernah
berhenti mendampingi Frodo. Waktu Frodo mulai kehilangan harapan, Sam tetap
ada. Waktu Frodo sudah tidak sanggup berjalan, Sam yang menggendongnya. Dia
juga beberapa kali menyelamatkan Frodo tanpa berharap apa pun. Saking setianya,
saya sampai beberapa kali mikir, “Ini orang greenflag banget ya.”
Sebaliknya,
saya malah sering dibuat gemas dengan Frodo. Saya tahu cincin memang
memengaruhi siapa pun yang membawanya. Filmnya juga berkali-kali menunjukkan
itu. Tapi tetap saja, saat dia lebih percaya Gollum daripada Sam, rasanya
pengin ngomong, “Bro, sadar dong.” apalagi setelah semua yang dilakukan Sam
untuknya. Yang membuat makin hiiihh sama Frodo, waktu semuanya selesai dan
mereka berhasil selamat, orang-orang malah sibuk meneriaki nama Frodo. Padahal
Sam juga, woi. Jangan lupakan Sam!
Selain Sam,
saya juga suka banget sama Legolas dan Gimli. Di tengah cerita yang cukup
berat, mereka berdua selalu berhasil membuat suasana jadi lebih ringan. Adegan
favoritku justru saat mereka saling menghitung berapa banyak musuh yang
berhasil dikalahkan. Bisa-bisanya lagi perang hidup dan mati, mereka masih
sempat lomba skor. Persaingan mereka lucu, tapi tetap terasa seperti
persahabatan yang tulus.
Aragorn
juga jadi salah satu karakter yang kusukai. Menariknya, saya justru jarang
membahas dia karena rasanya dia terlalu sempurna. Dia tidak banyak bicara, tapi
selalu sigap kalau dibutuhkan. Jiwa pemimpinnya kuat, setia sama Arwen, dan
hampir tidak pernah membuat keputusan yang membuat saya geregetan sebagai
penonton. Mungkin karena itulah aku lebih banyak membahas karakter lain yang
punya sisi abu-abu.
Kalau ada
satu karakter yang palng saya tunggu kemunculannya, adalah Gandalf. Entah
kenapa setiap Gandalf muncul, rasanya langsung tenang. Kayak, “Oke, sekarang
pasti ada jalan keluarnya.” Waktu dia jatuh saat melawan Balrog di film
pertama, saya sebenarnya tidak langsung percaya kalau dia benar-benar mati.
Rasanya tokoh sepenting Gandalf tidak mungkin selesai begitu saja. Dan ternyata
memang benar.
Untuk karakter
antagonis, yang paling menarik buatku justru Gollum. Saya tidak menganggap dia
sebagai sosok yang pantas dikasihani sepenuhnya. Dari awal saja dia sudah
membunuh demi mendapatkan cincin. Tapi tetap saja, saya tidak bisa memungkiri
kalau dia adalah karakter yang paling kompleks.
Kalau ada
satu pesan yang paling membekas setelah selesai menonton adalah tentang
kekuasaan. Cincin itu seperti simbol bahwa siapa pun bisa berubah ketika diberi
kekuasaan yang terlalu besar. Orang baik bisa menjadi tamak. Orang yang awalnya
punya niat baik pun bisa kehilangan arah. Entah kenapa, bagian ini terasa
sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Rasanya sulit untuk tidak
menghubungkannya dengan politik dan bagaimana kekuasaan sering kali mengubah
manusia.
Baca Juga: Ulasan dan Resensi Film Lainnya di Medium
Meski
begitu, ada beberapa hal yang membuatku kurang menikmati trilogi ini. Yang
paling terasa tentu durasinya. Jujur, setelah film pertama selesai, saya sempat
mengira Frodo dan Sam sudah hampir sampai di Mordor. Ternyata perjalanan mereka
baru dimulai. Di situ saya cuma bisa ketawa sendiri sambil mikir, “Lho masih
jauh?” Ada beberapa bagian yang menurutku terasa terlalu panjang, terutama saat
perjalanan menuju Mordor.
Selain itu,
suasana film yang cenderung gelap juga bukan sesuatu yang paling kusukai.
Hampir sepanjang cerita isinya perang, ancaman, dan keputusasaan. Mungkin
memang itu yang membuat LOTR terasa epik. Hanya saja, saya pribadi lebih
menikmati dunia fantasi yang masih menyisakan banyak rasa hangat dan takjub.
Saya tetap
mengerti mengapa trilogi ini dianggap sebagai salah satu pencapaian terbesar
dalam dunia perfilman. Dunia yang dibangun terasa hidup, karakter-karakternya
kuat, dan pesan yang dibawa masih relevan sampai sekarang. Hanya saja, kalau
ditanya apakah ini fantasi terbaik yang pernah saya tonton, jawabannya mungkin
belum.
Sampai hari
ini, saya masih memilih The Chronicles of Narnia. Dunia Narnia terasa
lebih hangat, lebih ajaib, dan lebih dekat dengan seleraku. Tapi bukan berarti
perjalanan dari Middle Earth sia-sia. Justru setelah selesai menontonnya, saya
akhirnya paham kenapa begitu banyak orang menyebut trilogi ini sebagai sebuah
karya yang layak dikenang.
Baca Juga: Ulasan film The Chronicles of Narnia
0 Komentar