Ulasan Novel Pulang Karya Leila S. Chudori: Tentang Sejarah yang Dibuka, Dirias, dan Dibatasi

Membaca ulang Pulang sebagai gerbang awal menuju sejarah, bukan sebagai kebenaran tunggal

Novel Pulang Karya Leila S. Chudori

Saya pertama kali menyukai fiksi sejarah karena karya Leila S. Chudori. Melalui novel seperti Pulang dan Laut Bercerita, saya merasa menemukan pintu masuk ke bagian sejarah Indonesia yang selama ini jarang dibicarakan di sekolah. Novel ini mengenalkan saya pada isu eksil politik, peristiwa 1965, kehidupan orang-orang Indonesia di luar negeri, serta bayang-bayang kerusuhan 1998. Sebagai pembaca awam pada waktu itu, saya mengagumi keberanian penulis yang mau mengangkat tema-tema sejarah yang selama ini terasa jauh, sunyi, dan tidak banyak disentuh dalam bacaan populer.

Namun, setelah beberapa waktu, setelah membaca ulang kesan saya sendiri dan membandingkannya dengan bacaan serta tontonan lain, saya merasa Pulang bukan novel yang bisa diterima begitu saja sebagai representasi sejarah. Novel ini memang berhasil membuka rasa ingin tahu, tetapi ia juga membawa cara pandang tertentu terhadap sejarah. Di sinilah menurut saya Pulang menjadi menarik sekaligus problematis.

Secara penceritaan, novel ini menggunakan beberapa sudut pandang tokoh dan alur maju-mundur. Pilihan ini sebenarnya bisa memperkaya cerita karena pembaca diajak melihat peristiwa dari banyak sisi. Akan tetapi, bagi saya, perpindahan sudut pandang itu tidak selalu berhasil. Ada bagian yang terasa mengganggu, terutama ketika sudut pandang orang ketiga muncul di tengah cerita yang sejak awal sudah terasa dekat dengan narasi orang pertama. Akibatnya, alur yang seharusnya memperluas pengalaman membaca justru beberapa kali membuat saya kehilangan keterikatan dengan cerita.

Bagian lain yang membuat saya kurang nyaman adalah porsi adegan vulgar yang terasa berlebihan. Saya tidak menolak kehadiran tubuh, hasrat, atau relasi intim dalam novel, tetapi dalam Pulang, beberapa bagian terasa terlalu dominan sampai menggeser perhatian dari isu sejarah yang sebenarnya jauh lebih kuat. Untuk novel yang membawa luka politik, eksil, kehilangan, dan ingatan kolektif, bagian-bagian itu membuat cerita terasa terlalu dirias secara melodramatis. Dan pola seperti ini selalu ada di novel-novel Leila yang lain, terutama yang bergenre fiksi sejarah. Sejarah dan politik adalah make up yang Leila pakai untuk mempercantik tulisannya.

Selain itu, yang paling mengganggu bagi saya justru terletak pada cara novel ini membingkai sejarah eksil politik. Pulang menampilkan para eksil sebagai manusia yang tidak pernah benar-benar pulang, baik secara fisik maupun batin. Mereka hidup dengan luka, rindu, trauma, dan rasa tercerabut dari tanah air. Pembacaan seperti ini tentu sah dalam fiksi. Namun, semakin saya membaca tanggapan dan perspektif lain tentang sejarah eksil, saya merasa bahwa gambaran dalam novel ini tetap perlu diberi jarak. Kehidupan eksil politik tidak bisa hanya dipahami melalui luka personal, nostalgia, atau kerinduan untuk pulang, sebab pengalaman mereka jauh lebih kompleks daripada satu bentuk penderitaan batin.

Dari sini, saya merasa bahwa Pulang memilih jalan dramatik yang lebih aman dan lebih indah secara sastra. Luka politik ditampilkan, tetapi tidak sepenuhnya dibuka. Sejarah kiri disentuh, tetapi tidak benar-benar didekati sebagai posisi politik yang utuh. Novel ini membahas orang-orang yang terdampak oleh stigma politik kiri, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga jarak dari ideologi yang membuat mereka tersingkir. Barangkali karena itu, saya bisa memahami mengapa sebagian pembaca menilai novel ini memiliki kecenderungan anti-komunisme yang halus.

Bagi saya, Pulang berada di posisi yang serba tengah. Ia tidak sepenuhnya kanan karena jelas mengkritik kekerasan negara dan membicarakan korban sejarah. Namun, ia juga tidak sepenuhnya kiri karena cara penceritaannya tetap terasa hati-hati, bahkan seolah ingin membuat sejarah kiri menjadi lebih bisa diterima oleh pembaca umum. Novel ini seperti membawa tema politik yang tajam, tetapi menyajikannya dengan riasan keluarga, romansa, makanan, nostalgia, dan luka personal.

Karena itu, saya tidak bisa lagi membaca Pulang dengan kekaguman yang sama seperti saat pertama kali mengenal fiksi sejarah. Dulu, saya merasa novel ini membuka mata. Sekarang, saya merasa novel ini memang membuka pintu, tetapi tidak cukup untuk membawa pembaca memahami ruangan sejarah secara utuh. Ini penting untuk dijadikan sebagai gerbang masuk, terutama bagi pembaca yang baru mengenal isu 1965, eksil politik, dan trauma sejarah Indonesia. Namun, ia tidak bisa dijadikan pegangan utama untuk memahami sejarah.

Di luar segala catatan itu, Pulang tetap punya tempat penting dalam pengalaman membaca saya. Novel ini pernah menjadi pintu yang membuat saya mulai mencari sejarah yang tidak banyak dibicarakan di ruang kelas. Namun, setelah membaca dari sumber lain, saya tidak lagi melihatnya sebagai karya yang perlu dipuja tanpa jarak. Pulang lebih tepat dibaca sebagai permulaan: sebuah fiksi yang membuka rasa ingin tahu, bukan rujukan final tentang sejarah. Ia bisa membawa pembaca masuk ke isu eksil politik, 1965, dan 1998, tetapi setelah itu pembaca perlu berjalan lebih jauh melalui dokumenter, kesaksian, arsip, dan bacaan nonfiksi agar sejarah tidak berhenti sebagai cerita yang indah, tetapi juga dipahami dalam kerumitannya.

Baca juga: Ulasan dan Resensi Buku Lainnya di Medium


Posting Komentar

0 Komentar