Ketika kecantikan tidak hadir sebagai anugerah, tetapi sebagai beban sejarah dan sosial
| Cover Novel Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan |
Membaca novel Cantik Itu Luka
karya Eka Kurniawan bukanlah pengalaman yang mudah, terutama bagi pembaca
perempuan. Novel ini memuat sejarah, kekerasan, seksualitas, kolonialisme, dan
trauma keluarga dalam satu dunia cerita yang gelap. Saya pertama kali membaca
novel ini ketika masih di bawah umur, sehingga banyak bagian terasa mengejutkan
dan sulit dipahami. Setelah lebih dewasa, rasa tidak nyaman itu ternyata tidak
hilang sepenuhnya. Rasa tidak nyaman itu berubah menjadi pertanyaan kritis
tentang bagaimana tubuh perempuan ditampilkan dalam novel ini
Secara umum, Cantik Itu Luka
dapat dibaca melalui pendekatan feminisme poskolonial. Pendekatan ini melihat
bahwa penindasan terhadap perempuan tidak hanya lahir dari relasi laki-laki dan
perempuan, tetapi juga dari sejarah kolonial, kelas sosial, perang,
militerisme, dan kekuasaan patriarkal. Dalam novel ini, tubuh perempuan tidak
hadir sebagai tubuh yang netral. Tubuh perempuan menjadi tempat sejarah
bekerja, mulai dari kolonialisme, pendudukan Jepang, prostitusi, kekerasan
seksual, sampai trauma antargenerasi.
Tokoh Dewi Ayu dan anak-anak
perempuannya memperlihatkan bagaimana kecantikan dapat berubah menjadi beban.
Judul Cantik Itu Luka sendiri sudah menunjukkan ironi tersebut.
Kecantikan, yang dalam masyarakat patriarkal kerap dianggap sebagai nilai utama
perempuan, justru menjadi sumber penderitaan. Perempuan dipuja karena tubuhnya,
lalu dilukai melalui tubuh yang sama. Dalam kerangka Simone de Beauvoir (2011),
perempuan dalam budaya patriarki kerap ditempatkan sebagai “the Other”,
yaitu pihak yang didefinisikan dari sudut pandang laki-laki. Novel ini
memperlihatkan bagaimana perempuan dilihat, diinginkan, diperebutkan, dan
dikendalikan oleh dunia yang tidak sepenuhnya memberi mereka kuasa atas tubuh
sendiri.
Baca Juga: Ketika
Tubuh Perempuan Tidak Lagi Menjadi Milik Personal
Kekerasan seksual menjadi salah satu
unsur yang membuat novel ini terasa berat. Tentu saja sastra tidak harus selalu
nyaman. Sastra dapat membicarakan hal-hal gelap, brutal, dan mengganggu. Namun,
pembaca tetap berhak mempertanyakan cara kekerasan itu ditampilkan. Dalam Cantik
Itu Luka, tubuh perempuan berkali-kali menjadi ruang penderitaan. Adegan
vulgar dan kekerasan seksual hadir dalam intensitas yang tinggi, sehingga
pengalaman membaca terasa melelahkan. Dari sudut pandang pembaca perempuan,
kelelahan itu bukan hal yang sepele. Ia dapat menjadi bagian dari kritik
terhadap cara teks membangun cerita.
Konsep male gaze dari Laura
Mulvey (1975) dapat membantu membaca persoalan ini. Meskipun teori tersebut
awalnya digunakan dalam kajian film, gagasannya tetap relevan untuk melihat
bagaimana tubuh perempuan diarahkan sebagai objek tatapan. Dalam novel ini,
tubuh perempuan kerap hadir sebagai sesuatu yang dinilai, dihasrati, dan
dijadikan pusat konflik. Pertanyaan pentingnya kemudian muncul. Apakah novel
ini sedang mengkritik kekerasan terhadap perempuan, atau justru membuat pembaca
terlalu lama menyaksikan perempuan sebagai objek penderitaan?
Dalam konteks kolonialisme, tubuh
perempuan juga dapat dibaca sebagai medan kekuasaan. Ann Laura Stoler (2002)
menjelaskan bahwa kolonialisme tidak hanya bekerja melalui ekonomi, hukum, dan
militer, tetapi juga melalui seksualitas, keluarga, ras, dan relasi intim. Hal
ini tampak dalam Cantik Itu Luka, sebab pengalaman perempuan tidak dapat
dipisahkan dari sejarah kolonial dan perang. Kekerasan terhadap tubuh perempuan
menjadi bagian dari kekerasan sejarah yang lebih luas. Kolonialisme tidak hanya
meninggalkan jejak pada wilayah dan politik, tetapi juga pada tubuh, ingatan,
dan keturunan.
Novel ini juga memperlihatkan trauma
yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Luka yang dialami
perempuan tidak berhenti pada satu tokoh saja. Ia bergerak melalui keluarga,
melalui anak-anak perempuan, dan melalui relasi sosial yang rusak. Dalam
pembacaan feminis, pola ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan
bukan peristiwa tunggal. Ia merupakan struktur yang terus dipelihara oleh
masyarakat patriarkal. Perempuan dapat bertahan, melawan, atau mengambil
keputusan sendiri, tetapi ruang gerak mereka tetap dibatasi oleh sistem yang
timpang.
Gayatri Chakravorty Spivak (1988),
melalui gagasan tentang subaltern, juga relevan untuk membaca posisi perempuan
dalam novel ini. Perempuan memang hadir sebagai tokoh penting, tetapi kehadiran
mereka tidak selalu berarti suara mereka sepenuhnya bebas. Mereka banyak
diceritakan melalui luka, hasrat laki-laki, kecantikan, dan kutukan. Dengan
begitu, pembaca perlu membedakan antara kehadiran perempuan dalam cerita dan
kebebasan perempuan sebagai subjek. Banyaknya tokoh perempuan tidak otomatis
membuat sebuah teks menjadi berpihak pada perempuan.
Meski demikian, Cantik Itu Luka
tetap memiliki kekuatan sastra. Eka Kurniawan mampu membangun dunia cerita yang
luas, liar, dan penuh lapisan sejarah. Gaya realisme magis, humor gelap, dan
absurditas membuat novel ini berbeda dari narasi sejarah yang rapi. Sejarah
dalam novel ini tampil kacau, penuh tubuh yang terluka, keluarga yang rusak,
dan kekuasaan yang brutal. Justru karena kekuatan penceritaan itu, rasa tidak
nyaman yang muncul saat membaca menjadi semakin kuat.
Sebagai pembaca perempuan, saya tidak
bisa hanya memandang novel ini sebagai karya besar tanpa menyisakan kritik.
Pengalaman membaca juga penting dalam kritik sastra. Rasa capek, terganggu,
marah, atau muak terhadap representasi tubuh perempuan bukan reaksi yang harus
disingkirkan. Reaksi tersebut dapat menjadi jalan untuk memahami relasi kuasa
dalam teks. Ulasan terhadap novel ini tidak perlu berhenti pada pertanyaan
apakah karya ini bagus atau buruk. Pertanyaan yang lebih penting adalah
bagaimana karya ini memperlakukan tubuh perempuan, kekerasan, dan sejarah.
Pada akhirnya, Cantik Itu Luka adalah novel yang kuat sekaligus problematis. Ia penting karena membuka ruang pembicaraan tentang kolonialisme, patriarki, kekerasan seksual, dan trauma sejarah. Namun, novel ini juga sulit saya terima sepenuhnya karena penderitaan perempuan terasa begitu dominan dalam bangunan ceritanya. Saya dapat mengakui nilai sastranya, tetapi saya juga berhak merasa lelah sebagai pembaca perempuan. Bagi saya, Cantik Itu Luka bukan sekadar novel tentang sejarah dan kutukan keluarga. Ia juga menjadi pengingat bahwa tubuh perempuan dalam sastra tidak boleh hanya dipakai sebagai tempat untuk menumpuk luka.
Daftar ReferensiBeauvoir, S. de. (2011). The second sex (C. Borde & S. Malovany-Chevallier, Trans.). Vintage Books. (Original work published 1949)
Kurniawan, E. (2017). Cantik itu Luka. Gramedia Pustaka Utama. iPusnas.Mulvey, L. (1975). Visual pleasure and narrative cinema. Screen, 16(3), 6–18.
Spivak, G. C. (1988). Can the subaltern speak? In C. Nelson & L. Grossberg (Eds.), Marxism and the interpretation of culture (pp. 271–313). University of Illinois Press.
Stoler, A. L. (2002). Carnal knowledge and imperial power: Race and the intimate in colonial rule. University of California Press.
Baca juga: Ulasan dan Resensi Buku Lainnya di Medium
0 Komentar