Ketika Tubuh Perempuan Tidak Lagi Menjadi Milik Personal

Jadi, saya salah karena tubuh saya kurus?

Foto oleh Oleg Ivanov di Unsplash

Tubuh perempuan tidak pernah hadir sebagai sesuatu yang sepenuhnya netral di ruang sosial. Ia tidak hanya dilihat sebagai tubuh biologis, tetapi juga sebagai tanda yang terus dibaca, dinilai, dan diberi makna. Bentuk badan dapat berubah menjadi ukuran kesehatan, kecantikan, moralitas, kelas sosial, bahkan kondisi hidup seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari, tubuh bisa menjadi semacam teks terbuka. Orang merasa berhak membacanya, lalu menyimpulkan banyak hal dari apa yang tampak di permukaan. Tubuh yang berisi dianggap sehat, tercukupi, dan dirawat dengan baik. Tubuh yang kurus dianggap kurang makan, kurang terurus, atau sedang berada dalam kondisi yang memprihatinkan.

Pandangan seperti ini terasa dekat dalam pengalaman saya. Setiap kali mengenakan pakaian tanpa lengan, baju yang mengikuti bentuk badan, atau pakaian yang memperlihatkan siluet tubuh, komentar tentang itu hampir selalu muncul. "Kecil banget." "Makan yang banyak." "Kayak gak pernah dikasih makan." Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan santai, kadang disertai tawa kecil, seolah tubuh orang lain memang bagian dari percakapan umum yang bebas disentuh siapa saja.

Ada bentuk kekerasan yang tidak selalu terdengar. Ia bisa hadir dalam kalimat ringan, dalam candaan, dalam komentar yang dianggap biasa. Ketika diulang terus-menerus, komentar seperti itu tidak lagi terasa seperti basa-basi. Ia berubah menjadi pengingat bahwa tubuh saya selalu sedang diamati.

Hal yang menarik, komentar terhadap tubuh kurus jarang dianggap sebagai body shaming. Dalam banyak percakapan, tubuh kurus dianggap lebih "aman" untuk dibicarakan. Seolah orang kurus tidak punya alasan untuk tersinggung karena tubuh ramping di banyak tempat dianggap dekat dengan standar kecantikan modern. Padahal, rasa tidak nyaman tidak selalu lahir dari bentuk tubuh itu sendiri. Ia bisa datang dari cara orang lain memperlakukan tubuh tersebut.

Di lingkungan tertentu, tubuh kurus tidak dibaca sebagai sesuatu yang indah atau ideal. Ia dibaca sebagai kekurangan. Ia mengundang rasa kasihan. Ia membuat orang bertanya apakah seseorang makan dengan cukup, apakah keluarganya memperhatikan, apakah hidupnya baik-baik saja.

Dari sini terlihat bahwa tubuh tidak hanya dipahami sebagai urusan pribadi. Tubuh juga ditempatkan dalam kerangka sosial yang lebih luas. Dalam masyarakat yang masih memiliki budaya komunal kuat, batas antara perhatian dan intervensi memang kadang kabur. Orang terbiasa mengomentari tubuh tetangga, saudara, teman, atau anak orang lain dengan alasan peduli. Berat badan, warna kulit, jerawat, cara berpakaian, bentuk lengan, ukuran pinggang, semuanya bisa menjadi bahan komentar yang dianggap wajar. Budaya seperti ini membuat tubuh menjadi milik sosial. Ia tidak sepenuhnya dibiarkan menjadi milik pemiliknya.

Pada tubuh kurus, komentar yang muncul biasanya dibungkus dengan bahasa kepedulian. "Makan yang banyak, biar kelihatan sehat." Sekilas terdengar seperti perhatian, tetapi di dalamnya ada asumsi yang bekerja diam-diam, bahwa tubuh kurus adalah tubuh yang belum layak dianggap sehat.

Padahal tubuh manusia tidak bergerak menurut satu ukuran yang sama. Ada tubuh yang berat badannya mudah bertambah, ada tubuh yang tetap ramping meskipun makan dengan cukup. Ada faktor genetik, metabolisme, struktur tulang, aktivitas fisik, hormon, pola tidur, kondisi psikologis, dan banyak hal lain yang tidak terlihat dari luar. Namun masyarakat kerap lebih percaya pada kesimpulan visual. Apa yang tampak dianggap cukup untuk menjelaskan seluruh keadaan seseorang.

Dalam pengalaman saya, bagian yang paling melelahkan bukan hanya komentar tentang ukuran tubuh. Yang lebih mengganggu adalah rasa kasihan yang ditempelkan pada tubuh saya. Seolah badan saya menjadi bukti bahwa saya kurang makan, kurang diperhatikan, atau tidak hidup dengan layak. Seolah bentuk tubuh bisa dipakai untuk menilai bagaimana keluarga saya merawat saya.

Saya makan. Saya tidak ditelantarkan. Saya tidak sedang berusaha menahan lapar. Saya juga tidak memandang tubuh saya sebagai masalah yang perlu diperbaiki.

Namun dalam pandangan sosial tertentu, semua itu tidak cukup. Tubuh saya tetap dibaca sebagai kekurangan hanya karena ia tidak sesuai dengan standar tubuh yang dianggap sehat oleh lingkungan sekitar.

Di titik ini, persoalannya menjadi lebih luas daripada pengalaman pribadi. Ia berkaitan dengan cara masyarakat membentuk standar tubuh ideal. Standar tersebut tidak pernah tunggal. Ia berubah mengikuti ruang, kelas sosial, media, budaya populer, dan nilai yang diwariskan dalam keluarga atau lingkungan.

Di media sosial, tubuh ramping sering dipuji. Perut rata, lengan kecil, siluet tubuh yang jenjang, semuanya diasosiasikan dengan kecantikan modern. Banyak pakaian dirancang untuk tubuh yang ramping. Banyak tren visual memperlihatkan tubuh kecil sebagai bentuk yang diinginkan. Dalam budaya populer, tubuh semacam itu kerap disebut aesthetic, body goals, atau dikaitkan dengan tampilan idol Korea.

Namun di lingkungan lain, tubuh yang sama dapat dianggap terlalu kecil, terlalu kurus, terlalu memprihatinkan. Tubuh ramping yang di satu ruang dipuji, di ruang lain justru menjadi alasan untuk dikasihani.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa standar tubuh tidak pernah sepenuhnya objektif. Ia dibentuk oleh cara masyarakat memberi makna. Di lingkungan yang menghubungkan badan berisi dengan kemakmuran, tubuh kurus akan mudah dianggap kurang. Di lingkungan yang menghubungkan tubuh ramping dengan kecantikan dan disiplin diri, tubuh yang sama akan dipandang sebagai sesuatu yang ideal. Artinya, tubuh tidak berubah, tafsir sosialnya yang berubah.

Saya berada di antara dua cara pandang itu. Di satu sisi, saya hidup dalam lingkungan yang masih melihat tubuh kurus sebagai tanda kekurangan. Di sisi lain, saya juga melihat bagaimana tubuh ramping dipuja dalam budaya visual modern. Kontras ini membuat saya sadar bahwa mustahil membuat tubuh selalu dapat diterima oleh semua ruang sosial.

Selalu ada standar yang menunggu untuk menilai. Selalu ada mata yang merasa punya hak untuk mengukur. Selalu ada komentar yang muncul seolah tubuh perempuan memang diciptakan untuk diperiksa.

Tubuh perempuan sejak lama hidup dalam pengawasan sosial. Ia diminta cantik, tetapi tidak boleh terlihat terlalu menikmati kecantikannya. Ia diminta sehat, tetapi ukuran sehatnya ditentukan oleh pandangan orang lain. Ia diminta berpakaian rapi, tetapi pilihan pakaiannya tetap bisa dipersoalkan. Ia diminta percaya diri, tetapi kepercayaan diri itu mudah dianggap berlebihan ketika tidak sesuai dengan selera lingkungan.

Ketika tubuh perempuan kurus, ia diminta makan lebih banyak. Ketika tubuh perempuan berisi, ia diminta mengurangi makan. Ketika tubuh perempuan menutup diri, ia dianggap tidak menarik. Ketika tubuh perempuan berpakaian terbuka atau mengikuti bentuk badan, ia menjadi objek komentar.

Jadi yang salah tubuh saya, pakaian saya, atau cara berpikir orang-orang terhadap tubuh yang bukan miliknya?

Ada lapisan lain yang juga tidak kalah rumit. Ketika perempuan mulai memperlakukan tubuhnya sebagai ruang ekspresi. Tubuh yang diberi tindik, tato, pakaian terbuka, atau busana yang memperlihatkan bentuk badan kerap dibaca dengan kecurigaan. Orang tidak hanya melihatnya sebagai pilihan estetika, tetapi sebagai sesuatu yang perlu dinilai secara moral. Perempuan yang memakai tindik di perut, misalnya, tidak hanya dianggap sedang menghias tubuhnya. Ia bisa langsung dianggap terlalu berani, terlalu mencari perhatian, atau tidak tahu batas. Dan paling mudah untuk dicap nakal.

Begitu pula perempuan bertato. Pada tubuh laki-laki, tato mungkin lebih mudah dibaca sebagai gaya, identitas, atau keberanian. Pada tubuh perempuan, tato lebih mudah berubah menjadi bahan tatapan sinis. Tubuh perempuan yang dihias seolah dianggap sebagai tubuh yang keluar dari aturan sosial tentang bagaimana perempuan seharusnya tampil.

Dalam pola seperti ini, tubuh perempuan tidak pernah benar-benar selesai dinilai.

Saya sendiri sudah cukup nyaman dengan tubuh saya. Saya menyukai bentuk badan saya. Saya suka ketika pakaian jatuh dengan pas di tubuh. Saya suka mengenakan pakaian tanpa lengan, atau baju yang memperlihatkan siluet badan. Ada rasa menyenangkan ketika bisa melihat tubuh sendiri tanpa rasa benci.

Penerimaan semacam itu tidak selalu mudah. Banyak perempuan tumbuh dengan komentar yang membuat mereka memandang tubuh sendiri sebagai proyek yang harus terus diperbaiki. Maka ketika seseorang bisa merasa cukup dengan tubuhnya, itu seharusnya tidak langsung dicurigai sebagai kesombongan.

Merasa cantik dalam tubuh sendiri bukan kesalahan. Merasa seksi dalam tubuh sendiri bukan hal yang harus disembunyikan. Merasa cukup dengan tubuh yang dimiliki bukan bentuk penghinaan terhadap tubuh orang lain.

Yang perlu dipertanyakan justru kebiasaan masyarakat mencari kekurangan pada tubuh yang tidak mereka miliki, tidak mereka pahami, atau tidak sesuai dengan standar yang mereka anggap benar.

Tubuh tidak seharusnya menjadi tempat orang lain menitipkan asumsi. Tubuh kurus tidak selalu berarti kelaparan. Tubuh ramping tidak selalu berarti kurang sehat. Tubuh kecil tidak selalu berarti kurang dirawat. Ada banyak hal dalam diri manusia yang tidak dapat dibaca hanya dari ukuran lengan atau bentuk pinggang.

Barangkali yang perlu berubah bukan tubuh saya. Yang perlu berubah adalah kebiasaan sosial yang merasa berhak menyimpulkan hidup seseorang dari bentuk badannya.

Saya tidak membutuhkan rasa kasihan hanya karena tubuh saya kurus. Saya tidak perlu dibela dari tubuh yang sebenarnya saya sukai. Saya tidak sedang meminta diselamatkan dari bentuk badan yang membuat saya merasa nyaman.

Tubuh saya tidak selalu harus menjadi bahan komentar. Tubuh saya tidak perlu terus-menerus diterjemahkan oleh orang lain.

Ada saatnya tubuh perempuan cukup dibiarkan hadir sebagai tubuh. Tidak sebagai bukti kekurangan. Tidak sebagai bahan penilaian. Tidak sebagai ukuran kehidupan. Tidak sebagai milik sosial yang dapat dibaca dan dikomentari kapan saja.


Baca Juga: Kumpulan Artikel, Opini, dan Esai Lainnya di Medium

Posting Komentar

0 Komentar