Ketika Diperhatikan Hanya Saat Terlihat Patah: Review Film Tinggal Meninggal

Kita hidup di dunia yang lebih cepat berempati pada luka daripada menghargai keberadaan.


poster Tinggal Meninggal

Film Tinggal Meninggal adalah sebuah komedi getir karya debut sutradara Kristo Immanuel yang terasa ringan di permukaan, tapi diam-diam menyisakan perasaan tidak nyaman setelah ditonton. Dibintangi oleh Omara Esteghlal sebagai Gema, film ini bercerita tentang seorang pemuda canggung yang tak pernah benar-benar dianggap ada, sampai suatu hari, kematian ayahnya membuat orang-orang di sekitarnya tiba-tiba peduli.

Perhatian itu hangat, tapi sementara. Dan justru di situlah luka utamanya terasa.

Saya menonton film ini dengan perasaan yang agak campur aduk, tapi satu yang paling kuat: relate. Ada bagian dari diri Gema yang terasa dekat, bahkan terlalu dekat. Bukan soal kehilangan orang tua, tapi soal bagaimana perhatian manusia sering kali datang bukan karena kita berharga, tapi karena kita terlihat kasihan.

Di film ini, Gema akhirnya “ketagihan” perhatian. Ia mulai berbohong, menciptakan kematian demi kematian, hanya untuk mempertahankan rasa hangat yang sebenarnya semu. Dan meskipun itu jelas salah, saya tidak bisa sepenuhnya membencinya. Karena di titik tertentu, saya paham kenapa dia sampai ke sana.

Dulu, saya juga pernah ada di posisi di mana keberadaan terasa… opsional. Orang-orang baru mendekat saat saya bisa berguna, misalnya saat mereka butuh contekan. Mereka bisa jadi ramah, bahkan terlihat peduli. Tapi setelah itu selesai, semuanya kembali seperti semula. Saya kembali menjadi “tidak ada”.

Makanya, nonton Gema itu rasanya gak enak. Karena saya tahu rasanya jadi dia.

Tapi film ini juga jujur dalam menunjukkan bahwa luka tidak bisa jadi pembenaran. Kebohongan Gema mungkin berangkat dari kesepian, tapi tetap saja berujung pada konsekuensi. Sekali kita mulai berbohong, akan semakin sulit untuk berhenti. Dan saat kepercayaan hilang, yang tersisa bukan lagi perhatian, tapi jarak.

Menurutku, kekuatan film ini ada di situ. Ia tidak mencoba membuat kita sepenuhnya membenarkan atau menyalahkan Gema. Ia hanya memperlihatkan: betapa manusia bisa sangat ingin dianggap ada, sampai rela melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, dunia di sekitar kita juga ikut membentuk orang-orang seperti Gema.

Film ini rekomen buat ditonton setidaknya sekali seumur hidup. Kalau harus menonton ulang, rasanya tidak perlu.


Baca Juga: Ulasan dan Resensi Film Lainnya di Medium

Posting Komentar

0 Komentar