Mengapa Kita Jarang Percaya pada Sejarah?

Sejarah merupakan bagian dari masa lalu. Dan masa lalu adalah sekumpulan misteri yang menolak untuk diungkapkan.


Novel Namaku Alam by Leila S. Chudori (dokpri)

Sejarah itu menurut saya adalah persoalan yang tidak akan selesai dibahas. Berputar-putar seperti lingkaran setan. Kadang tanpa mencari tahu kebenarannya, kita asyik berdebat menurut sudut pandang kita masing-masing dan tidak ada yang terima apabila pendapatnya disalahkan.

Saya awalnya tidak tahu ada hal menarik apa dalam sejarah, terutama sejarah Indonesia. Bisa dibilang saya itu dulu orang yang apatis terhadap sejarah, sering ogah-ogahan dan malas ketika bertemu mata pelajaran IPS di sekolah. Namun, beberapa waktu lalu saya menemukan buku yang berhasil mengubah sudut pandang saya tentang sejarah. Bahwa sejarah itu tidak cukup jika hanya dilihat dalam satu sudut pandang saja. Sejarah perlu dilihat dalam berbagai sudut pandang siapa pun. Bukan untuk membahas siapa yang benar atau siapa yang salah, tapi untuk menyempurnakan kembali sejarah-sejarah yang selama ini disembunyikan, dihilangkan, dan diubah kebenarannya oleh para pencatat sejarah.

Salah satu novel yang sukses mengubah pemikiran saya tentang sejarah adalah novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Dalam novel ini diceritakan tentang trauma yang dialami oleh keluarga tahanan politik (tapol). Segara Alam menjenguk kembali masa kecilnya tentang bagaimana ia selalu dicerca sebagai anak pengkhianat negara. Setelah selesai membaca novel itu, saya jadi tahu, bahwa selama ini ada yang salah dengan masa lalu, ada yang salah dengan sejarah Indonesia.

Pencatatan Sejarah yang Lemah

Dalam novel ini saya menemukan pertanyaan menarik yang diucapkan oleh salah satu tokoh bernama Ibu Umayani tentang, “mengapa kita jarang percaya pada sejarah?” Saya tertarik sekali untuk ikut serta menjawab pertanyaan itu. In my opinion, pencatatan sejarah di negara kita masih sangatlah lemah. Terlalu banyak fakta-fakta yang dihilangkan pada setiap sejarah yang kita terima selama ini. Contohnya saja seperti tragedi 1965 atau Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia. Yang kita tahu dan yang semua orang tahu, bahwa PKI itu kejam, pemberontak, dan pengkhianat negara. Setidaknya itu yang kita pelajari dalam sejarah Indonesia yang diajarkan dibangku sekolah. Dan saya tidak menyangkal pernyataan itu.

Namun, kekejaman dan pembantaian yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia bukan titik utama dalam bahasan dari pertanyaan, “mengapa kita jarang percaya pada sejarah?” Oke, dapat diterima bahwa sejarah yang ini sudah melekat dan tertanam sejak dini pada setiap orang. Di sekolah pikiran kita telah cuci untuk memahami sejarah sesuai kurikulum. Hanya berputar-putar di situ saja. Sejak SD, SMP, bahkan SMA, sejarah yang diajarkan sama saja, selalu berulang dari zaman prasejarah, zaman kerajaan, zaman kolonialisme belanda, agresi militer, sampai pemberontakan PKI. Bahkan itu pun tidak diajarkan secara gamblang. Otak kita berhasil didoktrin untuk membenci ideologi komunis karena dianggap berbahaya. Negara kita luar biasa lucu. Gaya kepemimpinan komunis, tapi anti komunisme dan memuja-muja kapitalis. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa dibalik itu masih ada sebuah cerita yang disembunyikan? Dan saya menjawabnya iya.

Sejarah tentang warga sipil yang dituduh sebagai simpatisan PKI. Sejarah tentang mereka yang gemar mengkritik kebijakan pemerintah dicap berpaham kiri. Sejarah tentang mereka yang tidak bisa pulang ke tanah air karena status kewarganegaraan dicabut, mereka menjadi eksil politik karena lagi-lagi dituduh komunis. Saya berpikir ada kesalahan pada sejarah. Dan sejarah yang ini tidak pernah saya dengar dibangku sekolah.

Hal itu sudah cukup membuktikan bahwa memang pencatatan sejarah di sini masih lemah. Segalanya masih disembunyikan dan menjadi misteri. Lalu balik lagi pada pertanyaan, “mengapa kita jarang percaya pada sejarah?” Ya menurut saya itu poinnya, masih jadi misteri. Terus apa alasannya kita harus percaya pada sesuatu yang masih menjadi misteri? Dan itu sama halnya seperti Indonesia dijajah oleh belanda selama 350 tahun. Namun, apakah memang benar bangsa kita dijajah selama itu atau hanyalah sebuah hiperbolis yang dituturkan Soekarno? Dan pernahkah kita berusaha menerima sejarah tersebut dari sudut pandang sang penjajah untuk membuktikan apakah benar selama 350 tahun? Kita tidak pernah tahu selagi kita tidak melihat sejarah dari berbagai sudut pandang.

Dan kesimpulannya adalah sejarah itu dikuasai oleh siapa pemimpinnya. Fakta-fakta yang dihapus, diubah, dan dilebih-lebihkan atas dasar perintah dari para penguasa. Setidaknya itu yang bisa saya jawab tentang pertanyaan Ibu Umayani tersebut.

Tradisi Membungkam

Saya pernah diajak diskusi oleh teman saya mengenai bahasan ini lagi, tentang pertanyaan yang sama. Hari itu jawaban saya dari pertanyaan, “mengapa kita jarang percaya pada sejarah?” pencatatan sejarah di negara kita masih sangatlah lemah. Namun, teman saya malah menyangkal dan mengoreksi jawaban saya bahwa bukan lemahnya catatan sejarah yang mengakibatkan orang-orang jarang percaya pada sejarah, dia menjelaskan bahwa tradisi membungkam adalah faktor utama.

Dengan perbedaan pendapat saya dan teman saya, membuat diskusi kami yang awalnya seru jadi berantakan dan berakhir dengan perdebatan. Ya, saya sebenarnya cukup setuju tentang tradisi membungkam jadi faktor utama, tapi lemahnya pencatatan sejarah juga cukup relevan dalam konteks tersebut.

Lantas bagaimana tidak? Tradisi membungkam, mengancam, dan menyuap sudah mendarah daging di negara kita. Lucunya, saya setuju dengan argumen yang dia kemukakan, tapi ia menyangkal pendapat saya yang katanya, “pencatat sejarah itu nggak lemah. Tapi karena pencatat sejarah tahu risikonya jika semuanya ditulis secara gamblang. Kan sudah jadi tradisi negara kita kalau soal masalah berat yang menyinggung pemerintah pilihannya ada dua: tutup mulut atau mati.” Dia hanya menggarisbawahi soal ‘pencatat sejarah’, padahal yang saya maksud adalah ‘pencatatan sejarah’.

Terlepas dari kedua pendapat itu, sebenarnya pertanyaan, “mengapa kita jarang percaya pada sejarah?” memiliki jawaban dari berbagai perspektif. Jika dalam bahasan sejarah Indonesia, pertanyaan itu relevan kaitannya dengan pemerintahan dan lain-lain. Tetapi, jika pertanyaan itu digunakan dalam konteks yang berbeda. Katakanlah dalam perspektif sejarah dunia dan sains atau sejarah agama misalnya agama Islam. Dalam sains kita belajar bahwa manusia berasal dari kera. Yang seiring berjalannya waktu mengalami evolusi. Seperti pendapat Charles Darwin jika evolusi terjadi karena seleksi alam. Namun, saya yakin seratus persen bahwa Islam akan menentang pernyataan itu. Manusia tidak berasal dari kera, manusia diciptakan dari tanah. Kedua jawaban yang saling bertentangan. Dan itu mengakibatkan orang-orang jarang percaya pada sejarah.

Lalu, selain pertanyaan, “mengapa kita jarang percaya pada sejarah?” yang terdapat pada dialog dalam novel Namaku Alam, Ibu Umayani juga mengatakan bahwa, “sejarah adalah ilmu yang tidak akan pernah selesai.”

Sejarah merupakan bagian dari masa lalu. Dan masa lalu adalah sekumpulan misteri yang menolak untuk diungkapkan.


Posting Komentar

0 Komentar