Rangga & Cinta: Kisah Percintaan Anak Remaja Gengsi

 

Rangga dan Cinta: The Rebirth of Ada Apa Dengan Cinta?

Membuat ulang film yang sudah ikonik selalu menjadi taruhan besar. Rangga & Cinta memilih jalan yang cukup berani dengan mempertahankan alur cerita Ada Apa Dengan Cinta?, tetapi mengemasnya sebagai film musikal. Setiap kali cerita yang sudah ikonik dihidupkan kembali, selalu ada satu pertanyaan: apakah versi baru ini mampu berdiri sendiri, atau hanya sekadar mengulang kenangan lama?

Hal itu juga terasa ketika menonton Rangga & Cinta, sebuah film drama musikal yang disutradarai oleh Riri Riza. Ceritanya masih sangat familiar, tentang pertemuan Rangga yang pendiam dengan Cinta si cewek populer di sekolah, tentang persahabatan, puisi, dan hubungan yang tumbuh di tengah dinamika kehidupan remaja.

Secara alur, film ini tidak banyak mengubah cerita aslinya. Konflik, latar, bahkan beberapa dinamika hubungan antartokoh terasa masih berjalan di jalur yang sama seperti film yang lebih dulu dikenal publik. Namun, perbedaan yang paling jelas adalah satu hal: film ini dibuat dalam format musikal.

Beberapa adegan diisi dengan lagu yang menjadi bagian dari narasi. Tetapi menurut saya, kadang lagu-lagu tersebut terasa seperti jeda yang memperlambat cerita. Di tengah-tengah penayangan, rasanya sampai ingin menceletuk, "apasih nyanyi terus." Ya, ya... saya tahu ini adalah drama musikal. Dan dari jeda lagu yang membuat cerita menjadi lambat, saya sampai harus melompati beberapa menit supaya cerita kembali berjalan normal. Kebetulan saya menonton eksklusif di Vidio karena tidak berkesempatan menonton di bioskop saat itu.

Satu hal yang membuat elemen musikal dalam film ini terasa hidup adalah kualitas vokal para pemainnya. Saya cukup terpukau dengan suara Rangga yang diperankan oleh El Putra Sarira. Suaranya kuat dan ekspresif sehingga setiap bagian musikal yang ia bawakan terasa lebih hidup. Tidak heran jika beberapa penonton merasa film ini berhasil ditopang oleh suara El Putra Sarira.

Selain Rangga, karakter Borne dan boyband nya juga cukup berhasil membawa energi dalam adegan. Secara pribadi, bagian Borne menjadi salah satu yang paling menyenangkan untuk ditonton karena terasa lebih ringan dan natural.

Kalau dari segi akting, ada satu karakter yang menurutku cukup mencuri perhatian, yaitu Alya, yang diperankan oleh Jasmine Nadya. Karakter ini terasa sangat kuat secara emosional. Bahkan vibes-nya cukup mirip dengan Alya di versi film lama.

Salah satu adegan yang paling terasa kuat adalah ketika Alya terlihat ketakutan saat ayahnya berteriak. Adegan itu menggambarkan situasi rumah tangga yang tidak sehat, karena ayahnya digambarkan sebagai pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Cara Jasmine Nadya mengekspresikan ketakutan di adegan tersebut terasa natural, tidak berlebihan, tetapi cukup membuat penonton merasakan ketegangan yang dialami oleh karakternya.

Di tengah beberapa performa yang cukup kuat itu, ada satu karakter yang justru membuatku agak gemas, adalah Cinta.

Entah kenapa, sepanjang film aku merasa karakter Cinta terlalu gengsi untuk mengakui bahwa ia tertarik pada Rangga. Sikapnya kadang terasa seperti menarik-ulur yang sebenarnya bisa lebih sederhana kalau ia lebih jujur dengan perasaannya sendiri. Mungkin ini juga bagian dari dinamika karakter, Cinta adalah sosok yang populer di sekolah, sementara Rangga digambarkan lebih tertutup dan cenderung menyendiri.

Perbedaan posisi sosial itu mungkin membuat Cinta agak malu terlihat terlalu dekat dengan Rangga. Tapi sebagai penonton, kadang rasanya tetap bikin gemas juga melihat bagaimana ia terus menahan diri untuk tidak mengakui apa yang sebenarnya ia rasakan.

Bahkan setelah film selesai, komentar pertamaku cukup spontan: “Ini sih kisah percintaan anak remaja gengsi.”

Meski begitu, mungkin justru di situlah letak realisme cerita ini. Banyak hubungan remaja memang dipenuhi oleh rasa gengsi, kebingungan, dan ketakutan untuk terlihat terlalu jujur dengan perasaan sendiri.

Pada akhirnya, Rangga & Cinta terasa seperti kombinasi antara nostalgia dan eksperimen. Ceritanya masih sangat dekat dengan film aslinya, tetapi format musikal mencoba memberi warna yang berbeda. Tidak semua bagian terasa sempurna, tetapi beberapa performa pemain, terutama dari Rangga, Alya, dan juga Borne, membuat film ini tetap memiliki momen-momen yang menarik untuk dinikmati.

Dan kalau harus diringkas dalam satu kalimat sederhana, mungkin kesanku setelah menonton film ini tetap sama seperti yang pertama kali terucap setelah durasi filmnya selesai:

sebuah kisah percintaan remaja… yang penuh gengsi.

Posting Komentar

0 Komentar