Tentang Praga yang kehilangan peraganya
![]() |
| Photo by Kevin Gent on Unsplash |
"Hai, Praga."
Laki-laki itu duduk diam di sebuah bangku kayu, sedikit rapuh. Tangannya menggenggam sebuah benda yang tampak terkena... cat, mungkin? Ah, apa pun itu. Yang kulihat tentang anak ini, dia kesepian.
"Boleh aku duduk di sebelahmu?" Tanpa menunggu persetujuannya, aku lancang menduduki bangku tua itu bersamanya. Bahkan ketika itu pun, Praga sama sekali tidak menoleh ke arahku. Kuamati sejenak, rautnya kaku, bibir itu terlihat membiru. Bawah matanya menghitam sedikit, seperti orang yang kehilangan waktu tidur. "Pra, aku senang kau kembali ke rumah ini."
Bahkan dia tak pernah tersenyum sejak ia kembali.
"Sudah lama aku menunggumu, Pra. Sejak 12 tahun lalu. Dan akhirnya kau datang." Aku menyentuh jemarinya, kali itu terasa menembus. "Kau datang untukku, kan, Pra?"
Praga tak menjawab lagi.
Aku berharap dia menyadari kehadiranku, kembali menoleh padaku, untuk sesekali pandangan itu menetap lebih lama. Tapi yang kurasakan, justru sesak.
Aku ingin Praga yang dulu; Praga si anak umur 8 tahun, Praga yang selalu siap untuk merusak taman bungaku di belakang rumah, Praga yang tidak pernah segan meminta kue lapis setiap akhir pekan kepada ibu. Aku ingin Praga sahabatku itu kembali.
"Kau ingat tidak, bola basketmu tertinggal di rumahku 12 tahun lalu. Ayo kita ambil, Pra! Nanti kita mainkan sama-sama di halaman belakang rumahmu. Kau pasti ingat tempat itu, kan? Persisnya kejadian itu, kan? Ayo, Pra, ikuti aku!"
Entah apakah dia mendengarkan ucapanku atau hatinya sendiri yang bergerak untuk mengikutiku berjalan. Kami berhenti di samping rumahku. Di sana ada sebuah kotak mainan dari kayu, dan di situ tempat aku menyimpan bola basket miliknya. Tempatnya tidak pernah berubah. Namun sekarang telah usang. Sebab sudah lama isinya tak pernah kumainkan lagi sejak ia pergi.
"Ayo ke kebelakang rumahmu, Pra!"
Dia berjalan duluan, aku mengikutinya dari belakang. Tak sengaja, samar kudengar dia bersuara, "oh, Pramita." Dia menyebut namaku.
Kupikir dia Praga sahabatku yang lama. Dan memang, dia benar-benar Praga-ku yang lama. Hanya kami tak tumbuh beriringan. Dia menikmati sendirian menjadi dewasa tanpaku. Dia menjebakku di usia delapan tahun, yang seharusnya kami sama-sama berusia 20 tahun saat ini.
"Pra, lihat aku!" Sungguh dia tidak akan pernah melihatku lagi. "Ini tempatnya kan, Pra?!"
Aku hanya akan tetap menjadi anak berusia delapan tahun yang tidak pantas untuk disandingkan dengan Praga yang sekarang. Tapi dulu, aku merasa bahwa Praga adalah sebagian dari semestaku.
Sampai aku tahu tentang orang tuanya. Sampai aku tahu tentang rahasia-rahasianya, di tempat ini. Sampai aku sadar bahwa suatu benda miliknya bukan terkena cat. Sampai aku mengerti peraga-peraga mana saja yang hilang karenanya. Termasuk peragaku.
"Ini tempatnya kan, Pra?!" Aku mulai terisak, menyaksikannya lemah. "Tempat kau menghilangkan peragaku. Tempat kau membunuhku hari itu!"
Sampai aku paham, dia bukan Praga sahabatku.
Bodohnya, dia tidak akan pernah melihatku menangis lagi. Dia tidak akan pernah mendengar suaraku memanggil namanya. Hanya aku yang bisa mendengarnya terisak parau di tempat ia menghilangkan peragaku.
"Maafkan aku, Pra!"
Sampai suatu benda miliknya... kini juga menghilangkan peraganya.
Aku lega.
Desember, tentang peraga kita yang hilang. Tentang Praga yang kehilangan peraganya.

0 Komentar