Kembalikan masa kecilku tanpa harus menjadi seperti kakak.
| Ilustrasi oleh Melinda Sintawati |
BESOK adalah hari pengambilan rapor, hasil belajarku selama satu semester ini. Tapi aku tidak bilang pada ibu. Sebab aku tahu, ibu akan kecewa ketika melihat nilaiku tidak sempurna. Biarlah. Aku akan melewati libur semester satu tanpa apresiasi apa-apa. Ibu pun tidak akan pernah bertanya. Dia masih sibuk membanggakan hasil prestasi kakakku yang baru saja meraih peringkat satu.
Aku ingat, ketika kenaikan kelas hari itu, peringkatku turun dari sepuluh besar. Aku berniat untuk tidak memberitahu ibu atau ayah. Aku sengaja menyuruh kakak untuk mengambil raporku di sekolah. Kupikir rahasiaku akan aman padanya, rupaya ia bilang pada ayah ibu jika nilaiku turun.
"Lihat itu kakakmu! Selalu dapat peringkat satu! Seharusnya kamu contoh dia! Jangan main terus!"
Habis aku! Amukan ayah tak seberapa, tapi ibu... mencecar panjang lebar dan yang pasti membandingkanku dengan kakak yang tak pernah turun peringkat.
Kakakku sangat menyebalkan. Dia kadang selalu mencari-cari kesalahanku, sekecil apa pun itu, untuk diadukan pada ibu. Dan dia seketika akan merasa menjadi anak kesayangan. Yang bersih dari dosa, katanya.
Aku penasaran, apa cerita-cerita si bungsu di luar sana juga sepertiku? Atau hanya diriku yang melarat seperti ini?
"Aku baru sadar, kalau istilah anak emas itu beneran nyata," kataku pada temanku. Kami sama-sama bercerita pilunya menjadi si bungsu.
Dan salah satu cerita datang dari gadis bermata coklat. Ya, dia juga temanku, panggil saja Sorai---tapi itu bukan namanya---si bungsu yang ditinggal kakak tertuanya menikah dan kakak yang paling muda beberapa bulan lalu diterima kerja di pabrik.
Suatu hari, ketika sang kakak baru akan menerima gaji pertamanya, Sorai melihat ibunya sangat senang. Pulang sekolah, ia melihat ada makanan enak di meja. Sorai kelaparan. Ia buru-buru mengambil piring, lalu secentong nasi. Ayolah, harusnya lebih dari secentong. Tapi begitu Sorai hendak mengambil sepotong daging rendang di meja, ibunya datang dan membentak.
"Jangan dimakan!" bentaknya, "ini untuk kakakmu! Hari ini dia akan menerima gaji pertama. Daging rendang ini hadiah buat dia, karena dia sudah membuat ibu bangga!"
Sorai kecewa. Ia masuk kamar. Dan tahu apa yang terjadi? Sorai tidak mau makan semalaman, meskipun kakaknya sewaktu pulang kerja sudah mengizinkannya mengambil satu potong daging rendang. Namun Sorai menolak. Katanya, "aku nggak mau makan hak orang lain! Ibu membuat itu untukmu bukan aku!"
Si bungsu sepertinya akan menganggap ibu pilih kasih.
Larut dalam cerita, kami sama-sama menggerutu. Menyalahkan si sulung, menyalahkan ibu; orang tua, dan semuanya.
Yang pasti aku yakin, si bungsu mana pun pasti pernah ada di situasi seperti:
"Main HP terus! Kamu tuh kapan mau bantu Ibu?!"
Ketika satu barang dapat mengungkit seribu kesalahan.
"Contoh kakak-kakakmu! Mereka rajin bekerja dan bantu-bantu Ibu, bukannya sibuk main HP siang malam! Kamu itu harus bisa menjadi seperti mereka!"
Aku pernah ingin bertanya pada ibu, apa yang bisa kakakku lakukan diusiaku yang sekarang? Apa ibu memintanya untuk bekerja di rumah? Oh, tidak. Dia menerima banyak kasih sayang, karena pada saat itu hanya dia satu-satunya anak ibu dan ayah. Tentu ibu tidak akan membiarkannya terluka sedikit pun, atau kelelahan. Dan ibu akan memberikan apa pun yang dia mau. Semuanya baru, bukan barang sisa.
Pada semesta, aku ingin bilang, bahwa aku iri pada si sulung.
Namun, aku... dituntut harus bisa seperti dia. Ibu tak peduli berapa selisih umur kami. Yang pasti, ketika kakakku bertumbuh dewasa, maka aku pun harus siap menjadi dewasa.
Baiklah, itu artinya level dewasaku satu tingkat lebih tinggi dari kakakku. Sebab aku dewasa ketika aku belum pantas dewasa. Sementara dia, dulu masih anak-anak diusiaku yang sekarang.
Memang, dari sudut pandang kami, si sulung adalah makhluk paling beruntung, sebab dia bisa mencuri segalanya; masa kecil, perhatian orang tua, sampai ketika dewasa pun mereka masih menjadi prioritas.
Tak habis aku membandingkan nasibku dengan si sulung. Bahwa si bungsu telah lama hilang perhatian.
"Dek, besok Ibu yang ambil rapormu!"
Kembalikan masa kecilku, tanpa harus menjadi seperti kakak. Aku hanyalah anak kecilmu, Bu. Aku belum cukup dewasa untuk mengerti hidup.
***
cerita pendek ini juga dapat didengarkan melalui YouTube Si Bungsu Hilang Perhatian atau Spotify Podcast Ruang Semu Rasa - Episode 26
0 Komentar