Si Sulung yang Keberatan

 

Orang lain akan banyak protes pada proses yang tidak pernah mereka jalani.


Ilustrasi oleh Melinda Sintawati

"Kak."

Si sulung menoleh.

"Kakak ada uang berapa? Ibu pinjam dulu ya seratus, buat bayar sekolah adek."

Ibu tahu saja, kalau si sulung hari ini baru mendapatkan gaji pertamanya. Memang tidak banyak. Sulung berencana membeli beberapa keperluannya dan mengembalikan uang yang ia pinjam dari temannya untuk modal usaha. Sisanya, untuk memberi makan si ayam plastik dalam kamar. Ya kalau ada lebih, sulung ingin berbaik hati pada si perut agar tak perlu berlama-lama menyaksikan musik keroncong itu lagi.

"Nanti Ibu ganti."

Dia sulung yang tak banyak bicara, tak banyak protes pada ibu, makanya mengalah. Tanpa berharap ibu harus menggantinya. Tanpa pamrih. Meski sebenarnya ibu juga sering lupa untuk memberi gantinya. Tak apa, katanya. Dia cuma ibu.

Tapi yang ini, sulung yang lain...

"Kak, jangan boros-boros ya. Kalau ada sisa ditabung. Biar nanti kalau Ibu lagi nggak ada uang, Ibu bisa pinjam. Kakak nggak perlu khawatir, Ibu pasti ganti."

"Yang waktu itu saja belum diganti."

...yang pamrih.

"Kakak pengin beli sepatu, Bu. Sepatu Kakak sudah rusak. Gaji bulan lalu kan sudah dibelikan sepatu buat adek. Kenapa Kakak harus ngalah terus? Sementara di sini Kakak yang kerja."

"Iya, Ibu ganti kalau sudah ada uang. Makanya Kakak yang sabar.

Batin si sulung menggerutu, tahu begini... kuhabiskan saja uangku semua, buat beli jajan, daripada ketahuan Ibu.

Dan di sana, sulung yang lain lagi.

Sulung yang ini menyakitkan. Sulung yang ini hampir mati. Sulung yang ini keberatan. Sulung yang ini punya banyak masalah, tapi hanya dirinya sendiri yang melihat. Sulung yang ini...

"Kamu tuh bisanya apa?! Kerja nggak mau! Beres-beres rumah nggak bisa! Mau sampai kapan kamu nyiksa Ibu?! Sampai Ibu mati?!"

...katanya hanya beban.

Ibu tidak pernah tahu si sulung sudah berusaha. Ibu tidak pernah tahu si sulung sudah berjuang semampunya. Ibu tidak pernah tahu akan kegagalan yang menyakitkan yang diterima si sulung berulang kali. Ibu tidak pernah melihat si sulung mengerjakan seluruh pekerjaan rumah hingga telapak tangannya mengeras. Yang ibu tahu, dan yang orang-orang tahu, si sulung hanyalah seorang pengangguran. Yang numpang makan dan berteduh tiap malam.

Si sulung selalu dianggap pemalas, ketika ia tak pernah seperti teman-temannya yang lain, ketika ia tidak pernah menang dalam hidup yang katanya kompetisi.

Pundaknya cuma dua, tapi beban yang dipikul lebih dari itu. Harapan-harapan tumbuh beriringan. Tapi patah. Prosesnya akan selalu dipertanyakan manusia tak kasat rasa lainnya, "Jadi sekarang kerja di mana?"

"Belum, Bu. Masih nunggu hasil."

"Owalah! Ngelamar di mana memangnya? Di pabrik?"

"Di kampus, Bu."

"Etdah! Memangnya lulusan SMA bisa jadi dosen?"

"Bukan dosen, Bu, tapi mahasiswa."

"Ooo lanjut jadi beban part dua?"

Orang lain mana tahu rasanya mendengar berisik seperti yang si sulung dengar. Orang lain akan banyak protes pada proses yang tidak pernah mereka jalani. Orang lain akan selalu menuntut pada hidup yang bukan miliknya sendiri.

Dari banyak versi sulung yang ada di bumi, aku adalah sulung yang ini; si sulung yang keberatan...

"Lanjut jadi manusia!"

...menjadi manusia.

***

cerita pendek ini juga dapat didengarkan di Youtube Si Sulung yang Keberatan atau di Spotify Podcast Ruang Semu Rasa - Episode 25

Posting Komentar

0 Komentar