![]() |
| Illustration by Alvaro Montoro on Unsplash |
"BERAPA harga senyummu, Nona? Biar kubayar lunas!"
"Seharga dengan harga dirimu!"
Mataku tidak pernah melihat nona ini tersenyum, dengan alasan apa pun. Dari bibirnya yang bisu, membiru, itu pekat sekali. Nona tidak akan pernah bersuara, meski celotehan burung tiap pagi menyapanya. Kalau hanya ditanya, satu oktaf dari tiap vokal yang keluar akan memikat segalanya yang ada di bumi.
Mereka baru tahu, nona ini rupanya tidak bisu.
Nona membisu, sebab terlalu banyak suara yang ia dengar, dengan lancang menyakiti. Lalu sekarang, sang nona ini sedang mencoba untuk tuli. Suara-suara sekitar ternyata membuat nona tak nyaman.
Ingin mati.
Namun perannya menjadi manusia belum selesai di sini.
Biar kuberitahu, suara-suara itu terdengar seperti:
"Nona sekarang sudah besar ya? Sampai pangling."
"Kok agak kurus ya. Kayak nggak pernah makan."
"Kok sudah masuk SMA saja, perasaan baru lulus SD."
"Mau lanjut kuliah di mana nanti?"
"Kerja saja! Ngapain kuliah? Mau nganggur kok pake gaya!"
"Eh, jangan kuliah di situ, nanti susah loh dapat kerja kalau masuk swasta! Masuk negeri saja, murah!"
"Perempuan ngapain sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya bakal masuk dapur dan kubur!"
"Ya ampun... jadi karyawan biasa mah gajinya dikit. Kenapa nggak jadi PNS saja? Dapat jaminan di masa tua!"
"Waduh, zaman sekarang kok masih jadi pengangguran aja! Tuh si itu udah bisa beli rumah sendiri. Kamu kapan?"
"Kok belum ada gandengan nih? Nggak malu kondangan sendirian?"
Lama kuperhatikan, sejak saat itu, sang nona kehilangan senyumannya. Bersama dengan suaranya.
Katanya, ia kembalikan senyum itu pada pemilik sesungguhnya. Suatu saat ketika ingin ia ambil, ia bilang tak bisa. Harus dibayar. Katanya lagi, sangat mahal.
Aku berpikir, seharusnya nona-nona ini tidak perlu dilahirkan. Aku kasihan. Bumi dan seisinya hanya bisa menyakiti. Lukanya abadi.
"Beri tahu aku, Nona, jika senyummu sudah turun harga."
Kita tidak memiliki awal dan akhir. Kita hanya memulai pada bagian paling pantas untuk dimulai. Menyakitkan.

0 Komentar