Tak Kutemukan Bumi Manusia di Tanah yang Kupijak

 

art by Melinda Sintawati 

Inilah awal dari kematianku. Aku mendengar suara jeritan dari balik tembok kamar. Suaranya keras sekali. Sampai aku tidak bisa tidur karena suara itu tidak kunjung berhenti, ditambah suara gebrakan pintu yang kasar, disusul dengan isak tangis dari seseorang yang sangat kukenali suaranya. Aku buru-buru bangun dari tempat tidur, bergegas untuk melerai pertengkaran itu. Sialnya, aku terlambat. Ibuku sudah terkapar tiada daya.

Kini tinggal aku yang jadi sasarannya. Wajahku ditodong pistol oleh dua pria bertubuh besar. Sementara aku tidak tahu ke mana perginya bapakku: orang yang mereka cari. Sudah satu minggu sejak kembali dari Solo, bapak menghilang tanpa kabar. Aku rasa ibu tahu ke mana perginya, tapi berkali-kali dia terus membela laki-laki bangsat itu, dan lebih memilih mengorbankan diri daripada berterus terang. Jika ada pernghargaan manusia paling ikhlas, aku jamin ibuku pemenangnya.

“Di mana Darmaji?!”

Moncong pistol itu sudah tepat berada di depan mataku, tinggal tarik pelatuknya, maka—mungkin—aku akan mati.

“Katakan, di mana Darmaji bersembunyi! Atau kau mau kubuat mati seperti ibumu?!” Pria bertubuh besar itu mengancamku, tapi sungguh aku tidak tahu di mana si bangsat itu melarikan diri.

“Habisi saja kalau mau! Saya tidak takut mati! Tapi jangan harap saya akan mengatakan di mana Darmaji!” Kedua pria itu memukulku dengan bengis. Aku tak bisa melawan, sebab aku tak cukup kuat untuk menangkis pukulan dari tangan-tangan besar itu.

Tidak hanya berhenti di situ, aku juga mendapat cengkeraman, sundutan dari putung rokok, dan leherku yang berakhir dicekik sampai aku kesulitan bernapas. Mereka bisa saja menghabisiku sekarang juga kalau mereka mau.

“Saya bukan anaknya! Saya tidak tahu di mana Darmaji.”

“Bohong!”

“Untuk apa saya berbohong?”

Pukulan demi pukulan terus mereka layangkan ke wajahku. Aku terjatuh, lemas. Aku menatap wajah ibu yang sudah tidak akan berseri lagi, melihat matanya yang tidak mungkin terbuka lagi. Aku berteriak parau memanggilnya. Alih-alih menyahut, dia bahkan tidak akan pernah mendengarku. Dan inilah babak pertama kematianku.

Baiklah, akan aku ceritakan mengapa kedua pria itu mencari bapakku. Tapi mungkin aku tak bisa mengingatnya dengan jelas. Tidak banyak memori yang kusimpan karena ibu selalu memintaku untuk tidak perlu mengingat-ingat yang tidak penting. Namun, aku begitu menyesal telah melupakan hal yang seharusnya kuingat: tentang bapak.

Semua itu dimulai ketika bapak naik jabatan di pabrik tempatnya bekerja. Aku tak tahu hal gila apa yang dilakukan bapak sampai terkena PHK. Yang kuingat, bapak nyaris di penjara karena sebuah berkas yang tidak sengaja ia temukan. Kalau soal mengapa aku menyebutnya si bangsat, itu persoalan lain lagi. Untuk yang ini, mengenai ibu dan warisan.

Selepas bapak berhasil melarikan diri dari kejaran polisi, masalah muncul dari keluarga ibu. Tiba-tiba Pakde Suryo datang dan membahas soal tanah warisan ibu di Solo. Katanya, “Itu tanah sengketa. Seharusnya itu bukan hakmu, Marni!”

Ibu terkejut, bapak langsung emosi, sementara aku tetap disuruh diam dan tidak boleh mengerti apa-apa soal tanah warisan ibu, meski seringkali ibu bilang, “Ahmad, tanah itu akan menjadi milikmu suatu saat.” Ibu memperlihatkan surat tanah itu dengan bangga kepadaku. Bagi ibu, itu merupakan hadiah luar biasa yang diberikan padanya. Sebab sangat jarang seorang anak perempuan akan mewarisi tanah ketika orangtuanya tiada, apalagi posisinya ada seorang anak laki-laki yang lebih mendominasi. Dan itulah masalahnya, mengapa Pakde Suryo datang ke mari.

“Aku laki-laki, seharusnya aku yang lebih berhak atas tanah itu, Marni, bukan dirimu. Toh, kamu juga tidak menetap di Solo, kan?”

Ibu tak kuasa berkata apa-apa. Dia sudah menduga akhirnya akan seperti ini. Toh, ibu sudah pasrah seandainya Pakde Suryo akan mengambil tanah itu. Yang ibu tahu, di mana pun itu, anak laki-laki akan mewarisi harta, sedangkan anak perempuan akan mewarisi sisa rasa sakit. Itu pasti.

“Ambil, Mas! Lagipula Ahmad tidak membutuhkan itu, iya, kan, Mad?” Karena aku disuruh diam, jadi aku tidak bereaksi apa-apa, meski aku juga sedih melihat wajah kecewa ibu. Lain hal dengan bapak, tentu ia akan menuntut.

“Surat tanah itu sudah jelas atas nama Marni, artinya tanah itu milik Marni. Dan sudah menjadi haknya untuk dia berikan kepada Ahmad. Mas Suryo ini siapa tiba-tiba datang mau rebut tanah warisan?” ucap bapak dengan suaranya yang besar.

“Saya kakaknya, Darmaji! Saya yang lebih berhak mendapatkannya. Dan sebagai seorang kakak, tentunya saya perlu meluruskan agar tanah itu tidak menjadi tanah sengketa.”

“Tanah sengketa apa, Mas? Apa Mas Suryo punya surat tanahnya? Orangtua kalian sendiri yang sudah mengubah kepemilikan tanah itu atas nama Marni! Kalau tidak terima dengan warisannya mengapa tidak protes dari dulu, Mas?! Marni sudah berkeluarga, dia bukan tanggung jawabmu lagi, tapi dia tanggung jawabku. Kalau ada suatu masalah dengan Marni, urus itu denganku!” inilah hebatnya bapakku sebelum kunobatkan sebagai si bangsat.

“Diam ya kamu, Darmaji! Ini urusan saya dengan Marni, bukan dengan buronan sepertimu!” hina Pakde Suryo yang tampak tak sudi memiliki ipar seperti bapak.

Aku menyambar tak terima. “Tapi dia bapakku, Pakde!”

“Ahmad diam, ya! Jangan ikutan!”

Ibu langsung memelukku ketika Pakde Suryo tiba-tiba membentak. Dulu ibu selalu berpesan padaku supaya tidak membantah apa pun perintah Pakde Suryo, tapi karena sebagian di tubuhku mengalir darah bapak, wajar jika aku tak suka dengan sikap Pakde Suryo yang gila hormat itu.

“Begini saja, Marni, untuk meluruskan masalah ini, kita sepakati bersama. Tanah itu akan tetap menjadi milikmu asal kamu bersedia membayar uang kompensasi kepadaku sebesar harga tanah itu seandainya dijual. Atau kamu mau melepaskan tanah itu, dan urusan warisan ini selesai.”

Mendengar pernyataan Pakde Suryo, bapak mulai kesetanan. Akhirnya ibu pun langsung melerainya, membawa bapak masuk dan berjanji padanya untuk segera menuntaskan masalah ini. Dengan berat hati, dan demi aku, ibu memilih opsi pertama.

“Nah, begini, kan, enak. Ya sudah, Marni, surat ini aku bawa dulu. Nanti kalau sudah ada uangnya, jangan lupa datang ke Solo.”

Ibu mengangguk. Aku yakin, saat itu ibu sudah ingin marah, hanya saja semua amarahnya tertahan. “Segeralah pulang, Mas! Sebelum Mas Darmaji mengamuk lagi.”

Ibu berusaha menahanku yang nekat mengejar Pakde Suryo untuk merebut surat di tangannya. Lagipula ini aneh, mengapa ibu yang disuruh membayar? Mengapa tidak Pakde Suryo saja yang membeli tanah itu jika memang menginginkannya?

“Ahmad sudah!” cegah ibu dengan suara tangisnya yang tertahan.

“Bu, tanah itu milik kita, mengapa kita yang harus membayarnya? Kalau Pakde memang mau tanah itu, kan, dia bisa beli dari ibu. Lagipula Ahmad juga tidak mau nanti tinggal di Solo. Ahmad nggak suka sama Pakde Suryo!”

Marah pun aku sia-sia. Tidak ada yang bisa mengubah keputusan ibu. Apa pun yang dikatakan ibu, itu merupakan suatu tanda titik yang pasti. Aku tidak tahu apakah sebenarnya ibu melakukan itu semua untukku atau untuk memenuhi egonya sendiri. Yang jelas, aku tidak sepenuhnya menginginkan tanah itu sebagai warisan. Ibu boleh menjualnya kalau mau, tapi tidak untuk diberikan kepada Pakde Suryo.

Setelah harta benda dan sawah habis dijual untuk membayar kompensasi itu, ibu menyuruh bapak datang ke Solo menemui Pakde Suryo. Awalnya aku berinisiatif untuk menemani, tapi bapak menolak. Dan di situlah si bangsat berulah.

Uang untuk menebus surat tanah milik ibu, lenyap dalam satu malam karena dihamburkan bapak untuk berjudi. Mengetahui itu ibu marah besar, itulah kali pertamanya aku melihat orangtuaku bertengkar. Seminggu setelahnya, tiba-tiba bapak menghilang di saat kondisi ibu mulai sakit-sakitan karena beban pikiran dan masalah yang dialaminya. Aku sudah meminta ibu untuk melaporkan bapak ke polisi, toh dia juga burunan, kan? Namun, dengan tegas ibu menolak. Dia tetap saja cinta mati pada bapak sebesar apa pun kesalahannya, sebab menurut ibu bapak hanya stres karena tekanan yang dia dapatkan selama bekerja di pabrik.

Ibu melakukan itu pasti punya alasan. Dan aku penasaran ingin mengetahuinya. Sayang, ibu tidak suka bercerita, jadi aku mencoba cari tahu sendiri apa sebenarnya masalah bapak. Aku terkejut sewaktu melihat sebuah berkas di dalam map warna biru yang kutemukan di lemari pakaian bapak.

Rupanya selama ini bapak telah menyimpan rahasia besar dari pabrik tempatnya bekerja. Berkas itu yang ditemukan bapak, yang membuatnya menjadi buronan. Selama ini telah terjadi korupsi besar di pabrik, tidak sengaja bapaklah yang justru mengetahui rahasia itu karena map yang dia temukan. Tetapi siapalah Darmaji? Dia hanya buruh pabrik. Dia tidak mungkin sanggup memenjarakan orang kaya itu, justru bapakku yang kena getahnya. Bapak di PHK, dilaporkan karena dituduh yang melakukan korupsi.

Negara ini sangat lucu. Keadilan itu seperti ilusi, dia tidak nyata. Bahkan tak kutemukan bumi manusia di tanah yang kupijak saat ini.

Darmaji yang hebat itu memanglah bapakku, tetapi Darmaji yang meninggalkan ibu tetaplah si bangsat. Dan kedua pria bertubuh besar ini, mencari bapakku yang hebat. Maka aku harap Darmaji ini tidak perlu kembali, karena dia tidak perlu menyerahkan diri untuk sebuah kesalahan yang tidak pernah diperbuat. Kalau risikonya mati, biarkan aku yang berkorban bersama ibu.

“Kamu tidak punya waktu lagi! Katakan di mana Darmaji atau mati?!”

Waktuku mungkin akan habis di sini. “Tidak akan kalian temukan Darmaji bahkan sampai aku mati!”

Door!

Tetap tak kutemukan bumi manusia di tanah yang kupijak sampai pada hari kematianku.

                       


Posting Komentar

0 Komentar